CABM 27 Oktober 2026, Safety is not just a certificate or a procedure. Safety is a culture, and ultimately, a leadership decision.”
Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan transportasi laut yang andal dan selamat. Untuk menekan kecelakaan maritim, perhatian kita perlu menjangkau seluruh sistem: kondisi kapal, kompetensi awak, pengawasan pelabuhan, hingga keputusan bisnis di kantor.
Sertifikat dan prosedur merupakan fondasi penting. Namun, nilainya baru terasa ketika diterapkan secara konsisten dalam pekerjaan sehari-hari. IMO melalui ISM Code menegaskan bahwa komitmen manajemen puncak merupakan landasan pengelolaan keselamatan yang baik. (imo.org)
1. Jadikan keselamatan sebagai dasar keputusan operasional
Komitmen keselamatan diuji ketika perusahaan menghadapi tekanan jadwal, biaya, dan permintaan pelanggan.
Apakah keberangkatan tetap dipaksakan ketika peralatan kritis belum andal? Apakah pekerjaan dilanjutkan saat kondisi cuaca melampaui batas operasi? Apakah laporan kerusakan segera ditindaklanjuti?
Manajemen harus memberikan dukungan nyata kepada nakhoda untuk menunda pelayaran atau menghentikan pekerjaan yang tidak aman. Pemilik kapal, penyewa, dan pelanggan juga perlu menghormati keputusan tersebut. Awak kapal akan memahami prioritas perusahaan dari keputusan yang mereka lihat.
2. Pastikan kelaiklautan melalui kondisi nyata kapal
Pemeriksaan harus membuktikan bahwa kapal dan peralatannya benar-benar siap digunakan. Fokusnya meliputi mesin penggerak, kemudi, sistem kelistrikan, pompa bilga, integritas kedap air, alat navigasi, serta perlengkapan pemadam dan penyelamatan.
Perawatan terencana perlu didukung anggaran, suku cadang, waktu pengerjaan, dan verifikasi hasil. Kerusakan berulang harus dianalisis penyebabnya. Temuan baru dapat dinyatakan selesai setelah perbaikan diperiksa dan, bila diperlukan, diuji fungsinya.
Untuk peralatan kritis, metode inspeksi harus sesuai dengan mekanisme kerusakannya. Pemeriksaan visual saja belum tentu cukup untuk mendeteksi kerusakan internal.
3. Perketat pengendalian muatan dan penumpang
Jumlah penumpang, berat muatan, distribusi beban, pengikatan kendaraan, dan barang berbahaya harus sesuai kondisi sebenarnya. Ketidaksesuaian data dapat memengaruhi penilaian stabilitas sekaligus menyulitkan penanganan keadaan darurat.
Dalam pembelajaran keselamatan kapal Ro-Ro yang dipublikasikan September 2026, KNKT kembali menekankan pentingnya akurasi manifes dan pengawasan muatan. Ini merupakan area konkret yang perlu diperkuat bersama oleh operator, pengelola pelabuhan, pengirim barang, dan petugas pemeriksa. (knkt.go.id)
4. Bangun kompetensi sekaligus kendalikan kelelahan
Sertifikat kompetensi perlu dilengkapi familiarisasi kapal, latihan praktis, dan evaluasi kemampuan menghadapi kondisi abnormal.
Awak harus memahami tindakan ketika terjadi kehilangan tenaga penggerak, kegagalan kemudi, kebakaran, kebocoran, atau orang jatuh ke laut. Latihan perlu menguji koordinasi dan kesiapan peralatan.
Perusahaan juga harus memastikan jumlah awak, pengaturan jaga, dan waktu istirahat mendukung pekerjaan yang aman. Personel kantor—termasuk operasi, teknik, pengawakan, dan purchasing—perlu memahami bagaimana keputusan mereka memengaruhi risiko di kapal.
5. Bangun budaya pelaporan yang dipercaya
Awak harus merasa aman untuk melaporkan kerusakan, kondisi berbahaya, dan kejadian nyaris celaka (near miss). Laporan yang jujur perlu mendapat respons dan tindak lanjut yang jelas.
Budaya adil berarti membedakan kesalahan manusia, perilaku berisiko, dan pelanggaran yang disengaja. Pendekatan ini menjaga akuntabilitas sekaligus membuka ruang pembelajaran.
Peningkatan laporan near miss tidak selalu berarti keselamatan memburuk; hal itu dapat menunjukkan bahwa kepercayaan untuk melapor mulai tumbuh.
6. Perkuat pengawasan dan pembelajaran lintas pihak
Pengawasan perlu memeriksa kesesuaian dokumen dengan kondisi lapangan, termasuk pengujian fungsi peralatan dan penyelesaian temuan sebelumnya.
Setiap kecelakaan juga harus menghasilkan perubahan yang dapat diverifikasi. KNKT menegaskan bahwa tujuan investigasi keselamatan adalah mencegah kejadian serupa terulang. Karena itu, rekomendasi perlu diterjemahkan menjadi tindakan, penanggung jawab, batas waktu, dan pemeriksaan efektivitasnya. (knkt.go.id)
7. Ukur pencegahan sebelum terjadi korban
Evaluasi keselamatan perlu mencakup lebih dari jumlah kecelakaan. Manajemen dapat memantau pekerjaan perawatan kritis yang terlambat, kerusakan berulang, temuan berisiko tinggi yang belum selesai, kualitas latihan darurat, dan kecepatan tindak lanjut laporan awak.
Untuk menilai tren secara adil, angka kecelakaan juga perlu dibandingkan dengan aktivitas operasi, seperti jumlah pelayaran atau jam operasi. Target “zero accident” harus disertai budaya pelaporan yang terbuka agar tidak mendorong penyembunyian kejadian.
Menekan kecelakaan maritim di Indonesia membutuhkan tindakan bersama yang konsisten. Regulator harus mengawasi dengan tegas, perusahaan menyediakan sumber daya, pelabuhan mengendalikan proses keberangkatan, dan awak menjalankan pekerjaan secara profesional.
Budaya keselamatan tumbuh ketika pemimpin mendengar laporan, menyediakan kebutuhan perbaikan, dan berani menghentikan operasi saat risikonya tidak dapat diterima. Di situlah keselamatan menjadi keputusan yang nyata.
CABM





